12.12.2007 06:47:11 3008x dibaca.
ARTIKEL
Oleh: BR. Frans Sugi, FIC
Melayani dengan Rendah Hati
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lk. 1:38)
Seluruh Keluarga Besar Yayasan Pangudi Luhur
yang berbahagia
di TEMPAT KARYA PELAYANAN
Berkat Tuhan,
Pertama-tama saya atas nama Pengurus Dewan Yayasan Pangudi Luhur Pusat mengucapkan selamat merayakan Pesta Pelindung Yayasan yaitu Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda. Semoga perayaan Pelindung ini membawa berkat bagi seluruh Keluarga dan memberikan inspirasi serta semakin meneguhkan kita dalam menjalankan karya pelayanan khususnya lewat karya pendidikan di Yayasan Pangudi Luhur bagi anak-anak muda.
Kita menyadari bahwa Pesta Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda bukan hanya Pelindungnya para Bruder FIC, tetapi pesta Pelindung bagi semua pihak yang terlibat dalam karya pelayanan Yayasan Pangudi Luhur, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang di luar pendidikan. Kita bersama-sama merayakannya sebagai satu Keluarga Besar Pangudi Luhur.
Makna Pelindung
Setiap orang yang menamakan diri Katolik dan telah dipermandikan, orang tersebut pasti mempunyai nama pelindung, biasanya nama seorang Santo atau Santa. Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa seseorang disebut orang kudus karena orang atau pribadi tersebut dekat dengan Tuhan, mempunyai hubungan secara khusus dengan Tuhan. Sebagai orang kudus mempunyai sifat-sifat atau menghayati nilai-nilai keutamaan tertentu. Keutamaan-keutamaan yang telah dihayati dan menjadi miliknya tersebut menjadi ciri khas yang melekat pada diri orang kudus tersebut. Orang yang mengambil nama Santo atau Santa tertentu berharap atau diharapkan mampu napak tilas atau meneladan dan mengambil contoh nilai-nilai keutamaan itu agar hidupnya sesuai dengan Santo atau Santa pelindungnya.
Banyak sekolah kita, Sekolah-sekolah Pangudi Luhur, yang memilih Santo atau Santa sebagai pelindung. Hal ini dikandung maksud agar seluruh warga yang terlibat di dalam unit kerja tersebut mau meneladan sikap-sikap dan atau keutamaan-keutamaan yang dihidupi oleh Santo atau Santa Pelindungnya. Perayaan hari-hari pestanya dapat dijadikan sebagai sarana dan kesempatan untuk semakin mendalami semangatnya dan pada akhirnya dapat mengamalkannya dalam hidup keseharian di lingkungan unit kerja setempat .
Hal ini pun berlaku bagi kita yang sekarang ini merayakan pesta Pelindung Yayasan, Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda. Bunda Maria sebagai orang kudus juga mempunyai keutamaan-keutamaan yang melekat pada dirinya. Apabila kita membaca doa Litani Santa Perawan Maria dapat kita temukan tidak kurang dari 49 gelar yang semuanya merujuk kepada nilai atau keutamaan yang melekat kepada diri Santa Perawan Maria. Belum lagi berbagai gelar yang diberikan orang kepadanya dan belum dituliskan dalam bentuk litani.
Maria, hamba yang rendah hati
Kisah Injil Lukas 1:26-38 yang dipilih sebagai bacaan dalam pesta hari ini dengan jelas melukiskan bagaimana Bunda Maria dengan segala kerendahan hatinya mau menerima secara penuh tugas untuk menjadi Ibu Penebus yang diberikan kepadanya lewat pewartaan malaikat. Dalam kerendahan hatinya, Maria menaruh harapan sepenuhnya kepada Allah. Kekuatannya ada pada Allah. Ia mempersilakan Allah berbuat apa saja atas dirinya. Setiap saat dalam hidupnya, Maria membuat pilihan untuk mempersilakan Allah menjadi Allah dalam hidupnya. Oleh sebab itu, Maria dengan jujur menyatakan identitasnya, ”Aku ini hamba Tuhan.”
Ia mengalami secara sangat mendalam bahwa Allah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Allah memperhatikan kerendahan hati bangsa-Nya yang diperbudak oleh penguasa dunia. Maria melihat bahwa Allah itu adil. Allah berpihak dan membela kaum kecil serta mengangkat martabat mereka sebagai umat yang dipilih-Nya.
Bagaimana sikap rendah hati ini kita hidupi di unit kerja kita masing-masing? Betapa damainya hati mendengar seorang Pemimpin (misalnya Kepala Sekolah, Kepala Kantor, Kepala Unit Produksi) ketika akan bepergian menyampaikan kata-kata pamitan kepada rekan kerjanya atau stafnya dengan tulus dan bahkan meminta agar apabila ada suatu masalah agar diperhatikan dan ditangani sebaik-baiknya. Sebaliknya betapa penuh tanda tanya bagi rekan-rekan kerja atau staf manakala seorang Pemimpin di suatu unit kerja dengan begitu saja mudah pergi meninggalkan tugas yang tidak jelas apa urusannya. Sikap sombong, congkak, egois, angkuh, merasa diri sebagai orang yang paling menentukan keberhasilan dalam suatu unit kerja sangat tidak sesuai dengan semangat Bunda Maria.
Maria, hamba yang menggembirakan
Maria menyerahkan diri secara penuh, dan memberikan kebebasan kepada Allah untuk berbuat sekehendak hati-Nya. Penyerahan diri secara total tersebut tidak mandul, tetapi menghasilkan buah-buah rohani seperti suka cita, damai dan ketenangan bagi sanaknya, Elisabet. Maria digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengunjungi Elisabet di tempat yang jauh. Maria membawa Sabda Kegembiraan yang diterima dan dialami oleh Elisabet. Di dalam kisah Injil kurang dapat dilihat secara fisik perjuangan perjalanan yang panjang dan tidak mudah dalam perjalanannya mengunjungi Elisabet. Kita lebih mudah tersentuh perjuangan Maria ini manakala kita menyaksikan film, sebut saja misalnya The Story of Nativity.
Betapa tidak mudah dan tidak nyaman Maria duduk di atas keledai yang membawanya dalam perjalanan kunjungan ini. Jalan-jalan darat yang serba tidak rata, berkelok-kelok, naik turun bukit semuanya membutuhkan perjuangan ketahanan fisik dan kesetiaan yang teguh. Namun hal ini pada akhirnya membuahkan kegembiraan bagi yang dikunjungi ,”...ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.” (bdk. Lk 1:44). Bagaimana dengan usaha perjuangan kita dalam membawakan kegembiraan? Kita dapat membayangkan dan membandingkan manakala seorang Ibu Guru berhasil menemukan salah satu anak didiknya yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah karena ada problem dengan orangtuanya. Orangtuanya tidak mampu membayar uang ujian akhir, padahal sudah waktunya harus melunasinya.
Anak tersebut malu dengan teman-temannya dan memutuskan lebih baik tidak masuk sekolah. Betapa melonjak kegirangan anak dan orangtuanya ketika Ibu Guru tersebut mengatakan bahwa uang ujian akan diberesi oleh sekolah, asal anak tersebut mau masuk sekolah dan menyelesaikan belajarnya sampai lulus. Kita masing-masing masih dapat mencari contoh-contoh pengalaman konkret berhubungan dengan hal membawa kegembiraan kepada orang lain.
Maria, hamba bagi Allah dan bagi manusia
Siapa yang harus kita jadikan perhatian, Allah atau manusia? Mestinya tidak perlu adanya pertentangan atau diperlawankan antara Allah dan manusia. Bunda Maria telah memberikan contoh. Kata YA kepada Allah lewat kabar malaikat bermakna YA kepada manusia. Pada waktu Bunda Maria menjawab YA, pada waktu itu pula ia menjadi Bunda Allah dan juga Bunda Manusia. Orang yang membuka diri bagi Allah, membuka jalan cinta Allah berkarya, yang kemudian mengalir ke dalam dunia. Kita percaya Yesus Kristus sebagai alfa dan omega, awal dan akhir. Iman kita meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Allah dan sekaligus manusia. Kita akan menjadi manusia penuh, bila kita bersedia dan rela diciptakan kembali dalam Kristus. Seseorang yang diberi tugas oleh Allah, akan makin berakar di dalam persatuannya dengan umat manusia sesamanya. Tidak pernah ada orang menerima sesuatu hanya untuk dirinya sendiri saja, segalanya harus dibagi-bagikan.
Manakala kita berani mengatakan YA kepada Allah tanpa syarat, seperti Bunda Maria, kita membiarkan Kristus lahir dalam hati kita. Kita menjadi hamba Tuhan dan sekaligus hamba manusia. Mereka yang mencintai Tuhan, tetapi tidak mencintai sesama manusia, ia omong kosong, bagaikan canang yang berbunyi gemerincing.
Maria, hamba yang menyapa
Masih dalam kisah Maria mengunjungi Elisabet, kita belajar soal sapaan secara pribadi. Bunda Maria tidak mengirim salam atau surat kepada Elisabet, tetapi Maria langsung mengunjungi dan menjumpai, sehingga dapat tatap muka dari hati ke hati. Dalam perjumpaan secara personal itulah terjadi mukjizat, ada rahmat, ada perubahan, atau peristiwa-peristiwa yang ‘mengguncang.’ Guncangan dapat terjadi di kedua belah pihak. Kita dapat membayangkan betapa berbunga-bunga hati Maria yang kemudian diwujudkannya dalam Kidung Magnifikat-nya.
Juga kita dapat membayangkan betapa berseri-seri wajah Elisabet setelah mendengar salam Maria bahkan sampai anak yang di dalam rahimnya melonjak! Bagaimana pengalaman sehari-hari kita? Apakah kita mampu ‘melonjakkan’ dalam rahmat mereka yang kita layani? Dalam suatu seminar seorang rekan Direktur sekolah berbagi pengalaman. Ia memanggil seorang murid yang kebetulan lewat di depan kantornya. ‘Heiii, tolong surat ini diberikan kepada Bapak Anu di kelas II depan.” Murid tersebut melaksanakan tugasnya dengan sukses. Setelah itu ia kembali lagi dan berdiri di depan kantor Direktur.
Rekan tadi bertanya,”Heiii, mengapa kembali ke sini?” Pikirnya, ia sudah rampung dan kembali ke kelas. Kata siswa tersebut,”Maaf, nama saya Budiman dan bukan heiii!” Secepatnya ia meninggalkan Direktur tersebut dan kembali ke kelas. Kita dapat membayangkan terjadilah ‘mukjizat’ yang saling melegakan di kedua belah pihak. Mengenal nama pribadi setiap murid, saling memberikan ucapan selamat, saling memberikan senyuman tulus, akan mendatangkan berkat.
Seluruh Keluarga Besar Yayasan Pangudi Luhur yang diberkati Tuhan, pada akhir surat saya ini, sekali lagi saya sampaikan Selamat Pesta dan Selamat Berkarya.
Kita saling mendoakan dalam terang Roh Kudus agar dari hari ke hari, kita semakin sanggup dan dimampukan untuk meneladan Bunda Maria Pelindung kita, sehingga kita dapat mewujudkan semangat Maria di dalam tugas pelayanan sehari-hari di mana pun kita diutus. Semoga Bunda Maria menjadi pengantara kita kepada Allah yang menjadi sumber segala berkat.
Marilah kita berdoa bersama:
Doa Persembahan Diri kepada Bunda Maria
Santa Maria yang kudus, Perawan tak bernoda, Bunda Allah,
kami memilihmu menjadi Bunda dan Pelindung.
Janganlah biarkan kami menjauh darimu hari ini,
melainkan bantulah kami menjadi hamba Tuhan yang setia,
dampingilah dalam segala langkah perbuatan kami
dan janganlah kautinggalkan kami pada saat kematian kami.
Amin.
Semarang, 8 Desember 2007
Salam dan kasih persaudaraan dalam satu karya pelayanan,
Br. Frans Sugi FIC
Ketua Yayasan Pangudi Luhur