10.03.2005 14:19:28 3520x dibaca.
ARTIKEL
Kita mengenal model pendidikan Dewantoro, Pesantren, Tanawiyah dan lain sebagainya. Apakah Pangudi Luhur merupakan model pengelola pendidikan seperti mereka juga? Pertanyaan ini dapat menjadi topik refleksi pada kesempatan Yubelium Yayasan Pangudi Luhur.
Kalau kita melihat kilas balik sejarah Yayasan Pangudi Luhur akan kita dapatkan bahwa sebetulnya nama Pangudi Luhur belum terlalu lama dikenal.
Banyak kalangan lebih-lebih para imam mengaku bahwa mereka bersekolah di bruderan. Jelasnya di bruderan OO singkatan dari kata Belanda Onbevlekte Ontvangenis yang merupakan jelukan dari Santa Perawan Maria Yang Dikandung Tanpa Noda. Di Jawa Tengah tidak banyak orang mengenal sekolah Pangudi Luhur.
Di Semarang orang mengenal Domenico Savio, Bernardus, Xaverius, Don Bosko, Tarsisius, St. Thomas, Santo Yusup. Di Jogya orang mengenal SD dan SMP Bruderan Kidul Loji. Di Sala orang mengenal Sint Josef, Bintang Laut dan SD Pangudi Luhur Keprabon.
Sekolah-sekolah yang menonjol justru tidak memakai nama Pangudi Luhur. Padalah Yayasan Pangudi Luhur secara resmi sudah hadir sejak 1954. Mengapa? Pada awal tahun-tahun kemerdekaan para pemikir pendidikan sudah melihat gejala-gejala bahwa lebih baik kalau sekolah-sekolah yang berasaskan katolik dengan bermacam ragam jenis pengelolanya dipisahkan dan dengan nama berbeda.
Pada waktu itu semua sekolah katolik di bawah naungan Keuskupan dan memakai nama Yayasan Pengelola dari Keuskupan. Di Jawa Tengah memakai nama Kanisius. Pada tahun 1954 Yayasan Kanisius melepas "pengelola"an pendidikan yang bersifat Keuskupan centris dan membiarkan para tarekat / ordo mendirikan yayasan yang berdiri sendiri dengan nama baru yang tidak perlu membawa bendera katolik.
Maka bermunculanlah di Jawa Tengah nama-nama seperti "Marsudirini, Budiluhur, Marsudiluhur, Tarakanita, Sanata Dharma, Wedabhakti dan Pangudi Luhur. Yayasan-yayasan ini berdiri sendiri membawa bendera ordo atau tarekat masing-masing bagi yayasan yang bernaung di bawah pengelolaan para biarawan, biarawati ataupun imam. Sesuai semangat para pendiri ordo ataupun tarekat mereka bekerja sesuai visi dan misi mereka masing-masing.
Para bruder FIC yang dulu bernama OO seperti terpapar di atas sejak awal berkarya di Jakarta sudah menggunakan nama Pangudi Luhur untuk sekolah-sekolahnya. Nama ini ternyata lebih dikenal daripada nama pemiliknya. Masyarakat luas tak kenal banyak tentang bruder FIC. Malah kata bruder sendiri asing bagi kebanyakan orang termasuk para imamnya. Namun Pangudi Luhur siapa yang tak kenal di Jakarta ini. Masyarakat Jakarta kebanyakan mengira Pangudi Luhur adalah nama sekolah.
Mungkin memang begitu. Tetapi selain itu juga merupakan nama dari pengelolanya, yaitu Yayasan Pangudi Luhur, dan yang sekarang ini tengah merayakan pesta yubelium. Nama Pangudi Luhur ternyata menjadi dikenal karena keberadaannya di Jakarta dan menjadi terkenal dari Jakarta. Tak berlebihan kalau Jakarta boleh berbangga membawa nama Pangudi Luhur menjadi lebih semarak.
Pada akhirnya mereka-mereka yang telah mengenyam pendidikan para bruder OO pun berani mengatakan bahwa mereka juga murid Pangudi Luhur, sedangkan Pangudi Luhur saat itu belum terdaftar pada akta surat lahir.
Apa yang membuat PL dapat tampil di panggung pendidikan di Jakarta pada khususnya? Penelitian mengenai hal ini memang belum dibuat. Sebuah tantangan bagi Yayasan Pangudi Luhur untuk mencari jawabannya. Dengan jawaban yang dapat dikumpulkan akan berguna bagi pengembangan YPL selanjutnya.
Mungkinkah jawaban menjurus pada perfeksionalitas ataupun profesionalitas? Pada bidang apakah YPL leading = menjadi panutan? Pada didaktik, methodik? Atau bimbingan (guidance)? Atau pada management pendidikannya dan personel pendidiknya alias mengelola SDM-nya? Kiprah PL di Jakarta sudah dapat diperhitungkan, artinya tidak dapat hanya dipandang sebelah mata.
Pada era segalanya dapat dijadikan alat bisnis dan tunggangan politik di manakah PL mau berdiri? Masihkah ia dapat bertahan pada kiprahnya yang lama? Masihkah ia mampu tetap pada misi dan visinya menjadi sarana mencerdaskan anak bangsa dan menghantar mereka ke kedewasaannya yaitu menjadi waganegara seratus persen dan seratus persen menjadi manusia yang beriman.
Suatu pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan tindakan, tidak hanya menjadi bahan diskusi atau refleksi saja. Pada akhirnya pengaruh yang telah tertanam dengan kehadiran PL, banyak orang akan menyorotinya dari hasil lulusan anak didik bukan hanya lulusan yang telah berhasil, tetapi juga lulusan yang masih hangat di akhir-akhir ini. Kualitas mutu para pendidik dan pengelola menjadi taruan akan keberhasilan Yayasan mencapai titik akhir dari misinya.
Di tengah masyarakat Jakarta sebagai kota besar Yayasan mendapat banyak tantangan untuk tidak tenggelam pada kebutuhan, ambisi, dan tuntutan masyarakat kota metropolitas yang serba blak-blakan dalam mengemukakan pendapat dan tuntutan-tuntutan mereka termasuk tuntutan hedonesme.
Lima puluh tahun orang sudah dapat dikatakan berada pada usia kematangan. Pengalaman dalam kiprah praktis sudah banyak didapat. Lima puluh tahun adalah tahun yubile artinya banyak yang harus sudah terbebaskan, seperti arti kata yubile dengan segala tradisinya yaitu merasa terbebas dan membebaskan.