19.02.2009 12:12:23 2544x dibaca.
ARTIKEL
Oleh : BR. Justinus Juadi, FIC
“MEMBACA dan menulislah selagi Bruder masih muda!” itulah ungkapan dan dukungan bruder overste saya. Petuah itu masih dilanjutkan “apalagi kalau Bruder ingin menulis, sebab membaca merupakan kekuatan terbesar untuk mengembangkan diri, sama halnya dengan makanan, gizi penulis adalah membaca.” Berbeda lagi dengan ungkapan seorang guru anak tunarungu, “Bruder, liburan nanti saya akan mengasuh anak di desa dan membaca buku.”
Mendengar ungkapan dari dua sahabat tersebut, lantas pikiranku terbayang dengan sosok ilmuwan terkemuka Thomas Alva Edison. Kendati pernah “drop out” dan mendapat cap “anak bodoh”, Thomas menjadi pribadi yang sukses berkat membaca. Tidak kurang dari tiga ribu penemuan yang dicatat atas namanya. Membaca bukanlah pekerjaan yang sia-sia atau membuang waktu saja (wasting time). Dengan membaca buku mampu mengubah kehidupan seseorang. Membuka cakrawala dunia.
Mengembangkan diri lewat membaca buku bisa di mana dan kapan saja. Bolehlah pada saat-saat luang dan libur mengagendakan waktu untuk membaca, entah menghabiskan satu, dua, atau tiga buku dalam waktu satu bulan. Titik-balik dari kebiasan membaca adalah pola pikir seseorang akan berkembang, berdaya guna dan pada saatnya akan menemukan potensi diri.
Dr. C. Edward Coffey, seorang peneliti dari Henry Ford Health System, telah membuktikan bahwa dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit Demensia atau pikun. Demensia merupakan penyakit yang merusak jaringan otak. Seseorang yang terkena demensia dipastikan akan mengalami kepikunan atau dalam bahasa gaulnya “Tulalit”.
Ketika membaca tulisan Bruder Frans Sugi FIC dalam “Idealisme dan Praksis Pendidikan Pangudi Luhur”, saya mendapati perhatian besar seorang guru terhadap muridnya. Sebagai guru Bahasa Indonesia, Br Frans membacakan karya sastra dalam jam-jam pelajaran, cerita pendek Robohnya Surau Kami (Ali Akbar Navis), Ave Maria (Idrus), dan novel karya Mira W (yang populer di tahun 80-an) dibacakan sampai habis. Pola membaca yang demikian ternyata membantu anak-anak dapat mencicipi nikmatnya karya sastra. Sang guru tersebut menjadi fasilitator untuk menumbuhkan kebiasaan membaca muridnya. Dengan demikian anak akan mempunyai kegemaran membaca buku dan nilai kecakapan hidup (life skill) tertanam dalam dirinya. Kebiasaan semacam inilah yang kiranya dibangun dalam lingkungan sekolah.
Kebiasaan membaca secara intensif saya lakukan ketika menjalani masa Postulat dan Novisiat Kanonik pendidikan Bruder FIC. Saya harus “Studi Pustaka dan Sidang Akademik”.Waktu satu jam digunakan untuk membaca sambil meringkas.
Setiap hari harus meringkas dan hasil ringkasan tersebut dikumpulkan. Bila mendapat nilai “B” dan tertera tanda tangan pembimbing rasanya puas hati ini. Sidang Akademik wajib mempresentasikan hasil studi di hadapan teman-teman angkatan. Dalam membaca tersebut setidaknya logika saya berkembang dan saya dapat memahami konsep serta istilah. Walaupun saat-saat tertentu sulit memahami isi bacaan, tidak mudeng, atau bahkan “nggak nyantol” sama sekali apa yang saya baca, apalagi kalau lagi bete atau bad mood.
Di kota-kota tertentu membaca rupanya sudah menjadi kebiasaan, terlebih didukung dengan adanya perpustakaan umum. Salah satu teman saya heran mana kala sebuah perpustakaan di kota Semarang diserbu oleh puluhan pengunjung “Wuah… boleh juga ya perhatian masyarakat Semarang dalam membaca” begitu komentarnya.
Jika membaca sudah menjadi kebiasaan, berarti masyarakat sadar bahwa membaca itu penting dan menjadi kebutuhan. Pertama, memberikan informasi, misalnya dengan membaca koran dan majalah. Yang kedua, memberi penghiburan, misalnya dengan membaca novel. Yang ketiga, yang paling penting, tetapi sekaligus paling sulit, memberikan pengertian. Sebuah buku bisa saja memberikan pengertian sekaligus menghibur dan memberikan informasi, dengan membaca akan membantu pertumbuhan otak (Kompas, Senin 21 Mei 2007).
Betapapun besar manfaat membaca, jika kurang memiliki kesadaran hal itu tak akan terwujud. Pernah suatu saat ada guru yang mengeluh kepada saya karena anaknya tak suka dan berminat membaca. “Bruder anak saya sampai sekarang sulit dibiasakan untuk membaca, tetapi menonton TV betah hingga berjam-jam…” Ketika dinasihati untuk membaca, anak tersebut justru menimpali, “Yesus aja nggak pernah membaca dan sekolah kok Bu!”
Ternyata tidak mudah menumbuhkan kegemaran membaca. Pepatah Inggris mengatakan “we first make our habits, then our habits make us” Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, bila orang tua ingin anaknya mempunyai kegemaran membaca buku, maka membaca buku perlu dibiasakan sejak kecil, disamping perlunya keteladanan dari orang tua sendiri..
Akhirnya, kita layak merenungkan pendapat Dr Tengku Asmadi : Dengan ilmu manusia disanjung, dikagumi dan dihormati. Kejayaan dan kecemerlangan hidup tidak mungkin tercapai tanpa ilmu.