YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Minggu, 19 Januari 2020  - 8 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


30.05.2008 21:29:54 3546x dibaca.
ARTIKEL
MENJADI SEORANG PEKERJA

Oleh : TH. Agung W
Berkarya di unit kerja SD PL Sugiyapranata Klaten

Mengapa Anda Bekerja?

Pada situasi seperti sekarang ini, sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginan. Tidak semua orang memperolehnya, namun kita telah mendapatkannya. Di lembaga tempat kita bekerja (Yayasan Pangudi Luhur), kita diharuskan menerima pekerjaan dengan syarat-syarat yang sudah ditetapkan, dengan begitu kita menjadi guru, pekerja, atau karyawan.


Ada banyak alasan mengapa kita bekerja, di antaranya untuk mengisi waktu, mendapatkan kemandirian ekonomis, memperoleh sumber nafkah keluarga, atau membangun identitas diri. Selain itu kita bekerja karena ingin berhubungan, bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain, mengembangkan potensi dan mengaktualisasi diri, dan sarana untuk mewujudkan cita-cita hidup. Mungkin satu atau beberapa hal itu dapat menjadikan alasan mengapa kita bekerja. Tentu saja dari motivasi dan dasar bekerja itu akan memberikan pengaruh berbeda pada pekerjaan yang kita lakukan.


Mengapa Harus Suka dengan pekerjaan? Orang yang tidak menyukai pekerjaannya akan cenderung diserang oleh tekanan emosi. Kemudian tekanan ekonomi yang timbul bersamaan dengan tidak mantapnya penghasilan menyebabkan munculnya serangkaian emosi yang lebih mengerikan. Ketidaksukaan terhadap pekerjaan adalah sama dengan mengundang datangnya penyakit.


Ada beberapa orang mendapatkan dirinya terserang penyakit sesaat setelah ia purna tugas. Bukan karena pekerjaan yang sebetulnya membuat begitu, namun lebih dari itu, ia kehilangan lebih banyak lagi, yaitu arti hidup yang ia dapatkan dari pekerjaannya. Seseorang yang senang dengan pekerjaannya, bahagia pada setiap hal yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak memiliki pekerjaan. Orang yang selalu memiliki ide untuk tetap bisa bekerja dan asyik dengan pekerjaannya, ia jarang sekali terjangkit penyakit yang disebabkan oleh faktor emosi. Pola yang dikembangkan adalah menyukai apa yang dikerjakan, bukan mengerjakan apa yang disuka. Bekerja adalah terapi.


Sudahkah kita bekerja secara profesional? Sekarang ini, kata profesi dipergunakan untuk menyebut hampir semua jenis pekerjaan yang menjadi sumber nafkah, misalnya salesman, sekretaris, pemain sepak bola, bahkan pemulung. Profesional adalah orang yang menjalani profesi tertentu sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.


Untuk menjaga mutu pelayanannya, pekerja profesional terus menerus berusaha membuat pengetahuan mengenai bidang dan keahlian dalam menjalankan profesinya harus tetap up to date sehingga tidak ketinggalan zaman. Pekerja profesional adalah pekerja yang berjanji untuk memberi pelayanan yang bermutu. Ia cakap dalam bekerja, mempunyai komitmen pada tugas yang diembannya, credibel (dapat dipercaya), dan memiliki human relation skill (mampu bekerjasama dengan orang lain dalam koordinasi yang mantap).


Untuk apa berperan? Peran merupakan seperangkat pola perilaku yang diharapkan dari orang yang menduduki posisi atau kedudukan tertentu pada unit sosialnya. Tujuan peran sebagai pekerja adalah menjadi pekerja yang dipercaya pribadinya, dan diandalkan kerjanya. Kita dipercaya bila menunjukkan integritas dan berkarakter, diandalkan jika mampu menunjukkan kemampuan dan kecakapan kerja, konsekuen, setia kawan dengan rekan kerja, dan loyal terhadap lembaga.
Sejauh mana kita sudah berperan? Menjadi bahan evaluasi diri tentunya. Tujuan peran sebagai pekerja dapat dicapai melalui kegiatan sehari-hari. Dengan melaksanakan peran di lembaga tempat kita bekerja, kita diharapkan dapat menunjukkan kinerja (performance) yang baik, memperlihatkan pencapaian kerja (accomplishment), mendatangkan prestasi kerja (achievement) yang bagus, sehingga dengan sendirinya mendapatkan tempat dan martabat yang baik (prestige) di dalam dan di luar tempat kerja. Status dan jabatan bukan hal utama dari sebuah peran yang benar.


Penghambat dan Pendorong Kemajuan

Kita dianugerahi kesehatan fisik dan mental yang baik, pendidikan, daya, kemampuan, dan keyakinan hidup (iman). Tetapi, kita sering bertanya mengapa kita seolah-olah tidak dapat membuat banyak kemajuan, bahkan hanya berjalan di tempat. Penghambat itu antara lain selera, nafsu, kesombongan, kepalsuan, terbius mimpi, dan ambisi. Karena selera, kita mengalami rasa senang atau susah, bergairah atau loyo, tenang atau resah, mantap atau ragu-ragu. Selera juga menciptakan mood (perasaan hati) yang gampang berubah setiap saat. Hidup yang berdasarkan selera cenderung labil dan mudah goyah.


Nafsu merupakan dorongan kuat untuk memenuhi kebutuhan dengan selera. Karena nafsu, kita langsung berbuat untuk memenuhinya tanpa menggunakan otak dan naruni. Nafsu berkaitan dengan semua kebutuhan, fisik, keamanan, sosial, harga, dan pengembangan diri. Bagi kita yang termakan oleh nafsu, seluruh perhatian terpusat pada nafsu. Kesombongan merupakan tindakan meninggikan diri tanpa dasar kenyataan.


Orang dengan kesombongannya selalu merasa diri lebih tinggi dari yang lain dan berambisi muluk-muluk. Karena itu, tidak ada kemajuan dalam hidup sebab hidup tidak berdasarkan kenyataan dan realitas. Kepalsuan yaitu tindakan mengganti kenyataan seperti halnya orang yang mengenakan topeng. Hidup dengan berpura-pura, bersandiwara, dan berbuat sedemikian rupa menciptakan kesan pada orang lain. Kita menjadi sibuk membuat rekayasa, mengada-ada, berdalih dan memanipulasi.


Terbius mimpi adalah terlalu meletakkan harapan akan keberhasilan dimasa mendatang. Kita sering terpukau masa depan, sehingga melupakan masa kini dan masa lalu, memenuhi otak dengan gambaran indah-indah, namun akhirnya tersadar bahwa kita kurang berbuat sesuatu guna meraihnya. Ambisi, yaitu menginginkan sesuatu melebihi kemampuan, ingin mencapai hal tinggi tanpa melihat modal dan kemampuan yang ada.


Pohon jati tidak akan menjadi jati yang baik dalam waktu singkat, berbeda dengan pohon pisang yang hanya perlu 3 bulan., kemudian mati. Arus listrik juga mencari jalur yang paling tidak memberikan rintangan. Namun, berpijarnya bola lampu justru terjadi karena arus listrik itu dialirkan sengaja ke kawat tungsten yang memberikan hambatan paling tinggi bagi si arus. Gambar diri yang kokoh harus disertai ambisi dan perilaku yang selaras dengannya, dan terus-menerus diteliti. Ambisi yang tidak sehat mengakibatkan orang yang disayangi, masyarakat di sekitarnya, menjadi penderita.


Di samping memiliki penghambat, kita memiliki kekuatan pendorong. Kekuatan-kekuatan pendorong itu di antaranya adalah kemampuan mengatasi masalah, mampu mengolah kegagalan, dan keseimbangan batin. Siapa yang merasa selalu mampu mengatasi masalah? Di tempat bekerja, tentunya kita tidak bisa luput dari masalah, entah karena diri sendiri, rekan kerja, hubungan dengan rekan kerja, atasan, atau masyarakat. Masalah berarti hal yang menghadang dalam mencapai keinginan, tujuan, dan sasaran tetapi kita dapat berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Masalah dapat berupa uang, barang, hal keadaan, perkara, urusan, kejadian, dan hal lain yang mengganggu.


Bagaimana menyikapi kegagalan? Kita tidak akan luput dari kesalahan, karena kita bukan manusia sempurna, tidak dapat mengingat segala hal yang seharusnya dilakukan, tidak mampu mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi kerja, karena ada faktor di luar diri kita. Kegagalan dapat membuat kita sedikit belajar untuk teliti, cermat, dan bijak.


Menjaga keseimbangan batin bukan hanya untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian hidup, juga agar mampu berfungsi sebagai pekerja. Keseimbangan hidup membuat kita tidak kehilangan arah saat mengalami tekanan, membuat kita berpegang pada prinsip di tengah cobaan dan godaan, dan menjadikan tetap jernih dalam berbagai persoalan yang selalu berusaha menghimpit kita.


Belajar dari Busido

Seorang pekerja pun dapat belajar sikap dari seorang ksatria Jepang yang terkenal waktu itu. Sifat yang dimiliki mereka adalah: respek, loyalitas, pengabdian, baik hati, kehormatan, kejujuran, dan keberanian. Dalam menjalankan tugas kita, sejauh mana kita tanggap terhadap siswa dan orang tua murid? Tentu kita ingat bahwa kita (warga Pangudi Luhur) mendapat gaji untuk mereka. Kesetiaan/loyalitas berhubungan juga dengan kenyamanan, kesejahteraan yang didapatkan dan tidak hanya secara fisik saja, hal itu terkait juga dengan emosional.


Seorang yang sudah masuk (di Pangudi Luhur) menjadi duta dari sekolah. Apa yang telah kita lakukan untuk mengembangkan sekolah, baik secara formal dan non formal di sekolah, masyarakat, dan dimanapun juga merupakan usaha untuk menjadi duta. Biasanya orang yang baik hati sering dibohongi orang, atau diperalat oleh orang lain yang mau memanfaatkan, tetapi setelah mendapatkan pengalaman itu yang bersangkutan akan belajar dan akhirnya dapat mendeteksi kebohongan/penipuan baik kepada dirinya, orang lain, dan kepada lembaga tempat ia bekerja. Supaya tidak dimanfaatkan orang, belajar dari pengalaman menjadi hal yang penting. Berbaik hati bukan hal aneh, kalau ada kebuntuan pasti ada saja yang memberi pertolongan, bantuan. Pastinya siapa menanam akan menuai.


Kehormatan menyangkut bagaimana kita sudah bertanggung jawab, sadar, kredibel, dan menjaga reputasi sebagai seorang pekerja (Pangudi Luhur = seorang pencari hal yang mulia). Kejujuran adalah sikap yang sekarang ini semakin banyak orang mempertanyakannya.Tentu kita tidak menutup mata dan telinga ketika kita melihat dan mendengar tentang korupsi di tempat kita bekerja. Dalam skala lebih besar, kita mengetahui semua bahwa negara kita mendapat ranking atas untuk korupsinya.


Keberanian yang dimiliki oleh ksatria Jepang dapat diterjemahkan untuk kita sebagai pekerja yaitu berani mengakui kesalahan, berani berinisiatif, dan berani berjuang (wani rekasa). Ke-tujuh sifat harus dilaksanakan secara seimbang, maka tidak akan over lap, tidak akan membunuh sifat yang satu dengan yang lainnya. Hal-hal tersebut adalah sekedar contoh dan pastilah masih bersifat teoritis semata, dan yang jelas tidak semua orang mampu atau cocok. Dan kalau kita pernah mendengar tentang harakiri, salah satu yang jarang dimiliki oleh bangsa kita adalah budaya malu. Harakiri dapat diartikan sebagai berjiwa ksatria, minta maaf, mundur dari jabatan. Bukan karena kecil hati kemudian tidak berani bertanggung jawab untuk kemudian dilemparkan kepada orang lain yang berada di posisi lemah.



Berharap pada Perubahan

Sekarang ini dalam dunia kerja terjadi pergeseran dari pengelolaan pekerja gaya lama menjadi gaya baru dalam hal jaminan pekerja, pengembangan pekerja, sistem kerja, dan perubahan kerja. Dalam pengelolaan lama, lembaga menanggung hampir seluruh jaminan pekerja, namun pada pengelolaan gaya baru pengelola hanya menanggung beberapa jaminan, misalnya kesehatan dan pensiun. Pekerja diminta mengurus sendiri jaminan-jaminan yang lain, sehingga gaji pekerja tidak begitu banyak dipotong iuran jaminan.


Dalam pengelolaan pekerja gaya lama, lembaga mengambil tanggung jawab penuh atas seluruh pengembangan karier pekerja. Dalam gaya baru pekerja dipersilahkan sendiri mencari dan memenuhi syarat-syarat kepribadian, kemampuan, kecakapan, dan ijazah yang dituntut. Contohnya adalah kebijakan YPL kepada para guru yang belum bergelar sarjana. Kepada pekerja yang berhasil, lembaga akan memberikan tugas dan hak yang sesuai.


Sistem kerja dalam pengelolaan gaya lama pada umumnya pekerja hanya menjadi pekerja individual atau menjadi petugas perorangan. Dalam gaya baru, pekerja bekerja pada sebuah tim kerja. Dengan demikian, pekerja tidak cukup hanya menjadi pekerja perorangan yang baik, tetapi juga harus mampu bekerja dalam tim dan berperan sebagai anggota tim kerja yang baik, pekerja yang mampu dan bersedia bekerja sama dengan rekan-rekan kerjanya. Namun tentu saja hal ini dalam penerapannya memerlukan usaha tidak mudah.


Perubahan kerja dalam pengelolaan gaya lama lebih kurang sama dan dapat diramalkan. Pada pengelolaan baru, pekerjaan disesuaikan dengan pasar dan kebutuhan konsumen. Maka, perubahan orientasi dan target kerja, peniadaan dan penciptaan pekerjaan hal biasa, mutasi, promosi, pengeluaran, dan pemasukan tenaga dapat terjadi kapan saja. Karena itu, pekerjaan dan karier pekerja dapat berganti dan sulit untuk diramalkan. Sudah hal wajar kalau YPL menutup suatu sekolah dan membuka sekolah di tempat lain.


Baru-baru ini di lingkup Yayasan Pangudi Luhur pada awal bulan Januari 2007 ada acara “kepyakan” pengurus baru bertempat di aula SMP Domenico Savio Semarang. Semoga dengan adanya kepengurusan yang baru, Pangudi Luhur semakin menunjukkan pendidikan yang unggul, peningkatan kualitas dan kuantitasnya, sistem manajemen yang tertib, dan mampu menyesuaikan AD dan ART dengan Undang-Undang yang baru.






KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 3.95.37.22 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2020  http://www.pangudiluhur.org/