30.05.2008 21:34:12 3150x dibaca.
ARTIKEL
Oleh : Bruder Suwarto, S.Pd, FIC
Sekitar periode dasa warsa terakhir ini muncul sekolah-sekolah yang menamakan diri sekolah internasional, sekolah berwawasan global sampai sekolah yang diberi nama dan diyakini sebagai sekolah alternatif. Tidak tanggung-tanggung, merek tersebut sekaligus menjadi nilai jual sekolah.
Baik nilai jual secara ekonomis maupun nilai jual dalam arti diminati stakeholder. Orang tua pun berbondong-bondong mempercayakan masa depan anak-anak mereka ke sekolah “alternatif” tersebut. Banyak penyelenggara sekolah mulai merasa tersaingi. Tumbuh rasa takut dan khawatir sekolah yang selama ini dikelola tidak diminati lagi oleh orang tua.
Secara umum sekolah-sekolah alternatif tersebut menonjolkan kekuatan modal yang besar. Gedung megah dengan fasilitas pendukung yang serba moderen. Semua mengindikasikan sebuah penyelenggaraan pendidikan yang membutuhkan biaya sangat besar. Tentu juga bisa ditebak siapa yang akan dan mampu bersekolah di tempat itu. Hal ini seolah-olah mau mengatakan bahwa lembaga sekolah yang selama ini menjadi wadah pendidikan tidak mampu lagi menjawab kebutuhan zaman. Benarkah ?
Dalam tulisan ini penulis ingin mengajak pembaca semua untuk mencermati fenomena munculnya sekolah alternatif tersebut. Khususnya menyadari kembali esensi dari pendidikan itu sendiri sehingga tidak perlu panik dan latah beramai-ramai mendirikan sekolah alternatif. Cukup membenahi (kalau diperlukan) sekolah yang telah ada. Tulisan ini bersumber dari Filsafat Pendidikan karangan Suparlan Suhartono, M.Ed., Ph.D.
Hakikat Manusia
Manusia, siapakah dan apakah dia ? Secara bagian per bagian hal yang bersangkutan dengan manusia sudah dipahami dengan jelas dan pasti. Akan tetapi, secara holistik, jauh lebih banyak persoalan yang belum dapat dipahami dan diketahui secara jelas, nyata, dan pasti. Hal-hal yang fisik umumnya sudah jelas, tetapi hal-hal yang bersifat spiritual masih tetap menjadi sebuah misteri.
Siapa yang tidak paham bahwa tindakan “korupsi” adalah perbuatan dosa dan bisa menyengsarakan banyak orang? Tetapi kenapa, jika ada kesempatan, “maaf” siapa pun cenderung melakukan tindak korupsi? Siapa pun tahu bahwa asal-muasal kehidupan manusia ini adalah dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, Namun kelihatannya hampir semua orang, jika peluang memungkinkan, cenderung melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai ketuhanan.
Siapa pun tahu melakukan kegiatan yang mengakibatkan penderitaan banyak orang adalah melawan nilai kemanusiaan, tetapi realitas menunjukan selalu ada perilaku negatif seperti itu mewarnai kehidupan keseharian manusia. Hal ini berarti pengetahuan (kognitif) manusia belum terhubungkan secara kausalitas-fungsional dengan kenyataan perilaku seharí-hari.
Dari jurang antara pengetahuan dan perilaku tersebut, muncullah usaha untuk mempertemukannya, yaitu melalui pendidikan. Sepanjang keberadaannya, manusia selalu berusaha mendidik dirinya dengan mencari dan menemukan keselarasan antara pengetahuan dengan perilakunya. Dalam konteks pendidikan, manusia selalu berusaha memerankan diri sebagai subyek (berusaha mendidik dirinya) dan obyek (untuk perbaikan perilaku).
Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, kehidupan manusia cenderung memposisikan dirinya sebagai subyek. Dengan ilmu dan teknologi, manusia membangun perekonomian secara eksploratif terhadap sumber daya alam sehingga lingkungan alam semakin tidak berimbang lagi. Manusia terjebak dalam kekejaman hukum rimba. Akibatnya struktur sosial terbelah antara “si kaya” dan “si miskin”.
Dengan kemajuan teknologi, manusia semakin terpuruk jauh ke dalam lorong filosofi kehidupan sekuler dengan orientasi hedonisme-materialistik. Akibatnya dunia transenden-spiritual terabaikan. Kehidupan diberi makna dalam dimensi kini dan di sini serta semakin tidak peduli dengan dimensi kehidupan hari esok. Hal ini bertentangan dengan sifat esensial manusia yang selalu bergerak menuju masa depan. Untuk tujuan inikah sekolah alternatif didirikan?
Berpengetahuan dan Berpendidikan
Manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cipta, rasa, dan karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai “kebenaran”. Rasa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai “keindahan”. Sedangkan karsa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai “kebaikan”. Ketiga jenis nilai tersebut dibingkai dalam satu ikatan sistem, selanjutnya dijadikan landasan dasar untuk mendirikan filsafat hidup, menentukan pedoman hidup, dan mengatur sikap dan perilaku hidup agar senantiasa terarah ke pencapaian tujuan hidup.
Filsafat hidup mengandung pengetahuan yang bernilai universal, meliputi masalah-masalah asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan. Jika diyakini Tuhan sebagai asal mula, kembali kepada Tuhan adalah mutlak sebagai tujuan kehidupan, dan tidak ada jenis, bentuk, dan sifat perilaku apa pun kecuali perilaku ketuhanan yang dapat mengantar ke tujuan kehidupan.
Pedoman hidup adalah pengetahuan umum yang khusus dijadikan suatu prinsip yang dianggap benar, karena sesuai dengan hakikat asal-mula dan berguna bagi pencapaian tujuan kehidupan. Berfungsi sebagai titik tolak langsung perilaku seharí-hari. Pada titik inilah pendirian seseorang dapat diukur, apakah konsisten terhadap filsafat hidupnya atau tidak.
Sikap dan perilaku hidup adalah pengetahuan khusus dan konkret berupa langkah kehidupan yang ditentukan sepenuhnya oleh pedoman hidup. Pada titik ini setiap langkah perbuatan harus menghasilkan suatu nilai kegunaan, yang tidak bertentangan dengan hakikat tujuan akhir.
Ketiga pengetahuan tersebut selanjutnya dijadikan obyek atau sasaran pendidikan sepanjang masa. Sepanjang hidupnya, manusia selalu berada di dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran untuk senantiasa memperbaiki dan mengembangkan filsafat hidup, pedoman hidup, dan perilaku hidupnya agar bisa mencapai tujuan akhir kehidupannya. Untuk tujuan inikah sekolah alternatif didirikan?
Dalam hidup seharí-hari, pengetahuan berubah menjadi moral, dan kemudian menjadi etika kehidupan, sedemikian rupa sehingga hakikat perilaku tersebut berupa kecenderungan untuk mempertanggungjawabkan kelangsungan dan perkembangan hidup dan kehidupan ini sepenuhnya. Tanpa diri dan atau kepribadiannya, seorang manusia tidak mungkin bisa memerankan arti dan fungsinya sebagai manusia; tanpa sesama manusia lainnya, seseorang tidak mungkin mampu berada dan melangsungkan keberadaannya; dan lebih-lebih tanpa potensi alam, manusia siapa pun tidak mungkin berada.
Sejak lahir, seorang manusia sudah langsung terlibat di dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Kegiatan pendidikan dan pembelajaran itu diselenggarakan mulai dengan cara-cara konvensional (alami) menurut pengalaman hidup, sampai pada cara formal yang metodik dan sistematik institusional (pendidikan sekolah). Pada pokoknya, persoalan pendidikan adalah persoalan yang lingkupnya seluas persoalan kehidupan manusia itu sendiri. Antara manusia dan pendidikan terjalin hubungan kausalitas. Karena manusia, pendidikan mutlak ada; dan karena pendidikan, manusia semakin menjadi diri sendiri sebagai manusia yang manusiawi. Untuk tujuan inikah sekolah alternatif didirikan?
Makhluk Berkebudayaan
Kebudayaan, baik yang material maupun yang spiritual, adalah upaya manusia untuk mengubah dan membangun keterhubungan berimbang baik secara horizontal maupun vertikal. Di dalam diri manusia ada potensi “karsa” yang cenderung bebas dan bergerak dinamis tanpa mengenal batas, maka manusia wajib membangun moral “pengendalian diri” dalam berperilaku. Seseorang disebut berkebudayaan jika senantiasa mampu melakukan pembatasan diri dan menjalani kehidupannya menurut asas “kecukupan”, bukan malah menuruti keinginan.
Perilaku berkeadilan dapat dilaksanakan dengan baik terhadap diri sendiri dan sesamanya. Tetapi jika perilaku adil itu tidak dilakukan terhadap alam, maka semuanya cenderung menjadi sia-sia. Karena ketidakadilan perilaku terhadap alam, pasti mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Jika lingkungan hidup rusak, kehidupan ini terancam punah.
Sejak ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mendorong perkembangan kehidupan masyarakat, manusia diposisikan begitu sentral, sehingga sikap dan perilaku manusia semakin “zalim” terhadap alam dan potensi sumber dayanya. Akibatnya, sistem lingkungan alam menjadi disharmonis, dan bencana terjadi di mana-mana. Oleh sebab itu, justru dengan potensi teknologi dan perindustrian itulah manusia harus semakin mendapat peluang untuk membangun hubungan romantis dan berkebudayaan dengan alamnya.
Hal ini hanya bisa dilaksanakan ketika manusia sudah berhasil membangun hubungan sebab-akibat antara kecerdasan spiritual (filsafat hidup) dan kecerdasan emosionalnya (perilaku adil). Lahir dalam keadaan “telanjang”, tetapi mengapa ketika mati harus “dibungkus harta benda “ . Untuk tujuan inikah sekolah alternatif didirikan?