YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Kamis, 20 Pebruari 2020  - 4 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


25.08.2006 07:47:00 8430x dibaca.
ARTIKEL
MARIA DALAM PUISI-PUISI THERESIA

Untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Bunda Maria, Santa Theresia membuat berbagai puisi. Menjelang akhir hayatnya pun ia masih mengubah puisi.


BUNDA Maria hidup dalam batin Theresia sejak masa kanak-kanaknya. dan, ini berlangsung hingga akhir hayatnya. Tak heran bila menjelang akhir hayatnya, Theresia seakan memberi pertanggungan jawab tentang Bunda Maria bagi dirinya. Seperti tampak dalam puisi terakhirnya “ Mengapa Aku Mencintaimu, Oh Maria”.


Theresia, berjumpa Bunda Maria pertama kali ketika ia tergolek sakit. Seperti dikisahkan dalam autobiografinya, The Story of a Soul. Suatu ketika keluarganya amat prihatin atas keadaanya. Sampai-sampai ayahnya meminta Marie, kakaknya, untuk menghubungi pastor, memohon intensi kesembuhan bagi Theresia.


Setelah bercerita tentang kakak-kakaknya yang berdoa disekitar tempat tidur, Theresia menuliskan perasaan batinnya sebagai berikut:

Tampaknya tidak ada lagi harapan bagi Theresia yang malang ini untuk hidup didunia. Demikian pula aku. kuarahkan diri kepatung Bunda Maria. Dengan seluruh hati berdoa kepada Bundaku di surga, memohon belas kasihnya. Keindahan yang melebihi berbagai pengalaman yang pernah kualami.


Wajahnya menampakkan kebajikan dan belas kasih yang tak dapat kulukiskan. Yang sangat menyentuh hatiku adalah senyumnya yang mempesona, Senyum dari perawan Mulia. Dengan seluruh penderitaanku. Titik-titik air mata mengaliri pipiku, Sungguh-sungguh air mata bahagia.


Lalu aku berkata pada diriku,” Betapa aku bahagia menyaksikan Perawan Mulia yang tersenyum kepadaku. Dan aku takkan menceritakan kepada siapapun tentang hal ini. Kalau kulanggar tentu akan hilang rasa bahagiaku ini.”


Namun, Maria seakan menangkap pengalaman Theresia. Hingga suatu saat atas permintaannya, Theresia mengungkapkan pengalaman tersebut kepada Marie.


Ketika kisah perjumpaan Theresia dengan Bunda Maria didengar orang lain, Theresia menjadi tersiksa. Ia sering diminta menceritakan kembali: Iapun harus menghadapi berbagai pertanyaan tentang gambaran detil Bunda Maria.
Theresia hanya bisa mengungkapkan, “Perawan Mulia kelihatan sangat cantik. Ia tersenyum padaku.”

 

 

Siksaan Batin

Dengan menelusuri puisi-puisinya, gambaran Bunda Maria ketika hadir dihadapan Theresia dapat ditangkap. Dalam puisinya yang pertama, misalnya, Bunda Maria degambarkan sebagai seorang ibu yang merengkuh, memberi perlindungan dan kenyamanan kepada bayi. Sekaligus ia siap memberi sari pati makanan yang bersal dari bagian dirinya: air susu yang mengalir dari payudaranya.


Kehadiran Bunda Maria sebagai sosok ibu yang lembut, yang membingkai, tidak berhenti sebagai sebuah potret yang diam. Tidak hanya berhenti sebagai perempuan dari masa lampau yang tampil sebagi seorang yang memiliki potensi-potensi pengasal dan pemelihara kehidupan.


Bagi Theresia, Bunda Maria tetap hadir sebagai sosok seorang ibu. Ibu yang dengan seluruh potensi keibuannya merengkuh dan memberi penghidupan serta perlindungan bagi manusia yang lemah. Bunda Maria tak hanya pasif sebagai bagian dari sejarah masa lampau. Ia tetap hadir dan aktif sebagai ibu bagi orang-orang yang mencerminkan hal itu.


Puisi Theresia yang digubah untuk Celine, kakaknya, menggambarkan kesan ini. Celine yang pernah hidup membiara bersama Theresia pernah mengalami siksaan batin. Sebagai seorang yang memiliki bakat melukis, sebelum masuk biara keahlianya dituangkan dengan membuat lukisan dalam kanvas-kanvas besar. Keahlian ini tak mungkin dilakukan lagi dibiara. Untungnya Celine masih mendapat tanggungjawab membuat hiasan dekorasi-dekorasi kecil. Namun, hal ini tetap tak membuatnya bahagia.
Mengetahui hal ini, pada hari Natal 1894, Theresia menghadiahkan sebuah puisi kepada Celine. Judulnya “ Dari Ratu Surga Kepada Anaknya Tercinta Marie Wajah Kudus” Bagi Celine, Puisi ini memberi kekuatan baru dalam menghadapi tantangan hidup yang dialaminya.


Aku mencari seorang gadis kecil yang mirip Yesus satu-satunya dombaku sehingga aku dapat merengkuh keduanya bersama-sama dalam satu buaian. Aku akan menyembunyikanmu dibalik kelambu, Dimana Raja Surgawi menyembunyikan diri. Mulai sekarang dan seterusnya Anakku akan menjadi satu-satunya bintang yang menyinarimu.



Puisi Terakhir

Gelar ‘Bunda Maria Ratu Kemenangan disebut Theresia tatkala ayahnya mohon kesembuhan bagi dirinya yang sedang sakit. Membaca gelar tersebut seakan-akan hadir sosok Bunda Maria dalam sisi lain.


Puisinya’ Untuk puteri Kemenangan, Ratu Para Perawan, Para Rasul, dan Para Martir’ Menggambarkan, bagaimana Bunda Maria hadir dalam sisi apostolis. Sisi kerasulan yang menjadi kharisma dari Theresia.


Puisi tersebut digubah Theresia untuk dipersembahkan kepada Adolphe Roulland, seorang imam Prancis yang menjadi saudara rohani Theresia. Rohaniwan ini kemudian diutus menjadi misionaris di Cina.


Engkau telah mempersatukanku untuk selamanya Dengan karya-karya dari seorang misionaris dalam ikatan doa mati raga dan cinta. Dari kedalaman keheninganku Maria... Aku menengkan jiwa-jiwa lewat rasulmu, aku ingin mempertobatkan para pendosa sampai jauh keujung bumi lewat perantaraannya aku mampu mengumpulkan daun palma yang dirindukan jiwaku. Oh, betapa pengharapan ini Bundaku tercinta Aku akan menjadi martir saudara dari seorang martir


Dan, inilah puisi terakhir theresia tentang Maria. Ia menulisnya secara utuh, Mei 1894.


Saat aku memandangimu dalam seluruh kemuliaanmu mengatasi kemilau dari semua orang kudus hampir-hampir aku tak percaya bahwa aku anakmu.
Oh Maria, dihadapanmu aku ingin menundukkan mataku...
Oh Bundaku tercinta, dipantai pengasingan ini
Betapa banyak air matamu yang tercurah ketika Engkau mau merengkuhku kepadamu Saat merenungkan kisah hidupmu dalam Injil.


Aku memberanikan diri memandangmu dan mendekatkan diri padamu Tidaklah sulit bagiku untuk menyakinibahwa aku anakmu karena aku melihatmu sebagai manusia yang menderita sebagimana aku juga.
Oh Perawan suci yang tak bernoda Ibu yang paling lemah lembut
Saat mendengarkan Yesus, engkau berduka malah engkau bahagia manakala Dia mampu memahami kami
Betapa jiwa kami telah menjadi keluarganya didunia ini
Ya, engkau bahagia karena Dia memberikan hidup-Nya untuk kami.
Harta tak terperi dari keahlian-Nya.
Bagaimana mungkin kami tidak mencintaimu, Oh Bundaku tercinta menyaksikan sedemikian besar cintamu dan kerendahan hatimu.


Aku tak lagi takut akan kemilau kemuliaanmu Bersamamu aku telah ikut menderita, dan sekarang aku ingin bermadah dipangkuanmu, Maria mengapa aku mencintaimu dan senantiasa berucap bahwa aku anakmu...

 G. Budi Subanar SJ.





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 3.95.37.22 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2020  http://www.pangudiluhur.org/