YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Minggu, 19 Januari 2020  - 6 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


03.11.2007 12:42:26 2341x dibaca.
ARTIKEL
GURU, PERANMU MASA DULU DAN MASA KINI

Oleh : Wawan S - SMA PL SEDAYU
Karyawan SMA PL Sedayu, kontributor majalah rohani


Beberapa hari di pertengahan tahun 2007 ini penulis dan kawan-kawan melakukan studi literatur kecil-kecilan tentang perkembangan agama Katholik di awal abad 20. Studi ini bertujuan menggali kembali proses perkembangan agama Katholik di daerah kami di awal abad XX.


Dari studi ini penulis mencapai sebuah pemahaman tentang korelasi perkembangan agama Katholik dengan karya pendidikan yang semula dirintis oleh misionaris Belanda. Memang kajian ini sangat spesifik untuk daerah dimana penulis tinggal. Namun tidak mustahil pola-pola yang penulis temukan sebangun dengan pola-pola yang terjadi di tempat lain.


Jika Pembaca Yang Terhormat bertanya mengapa guru harus dikaitkan dengan perkembangan agama Katholik, maka jawabnya adalah adanya hubungan erat antara pendidikan dan karya para misionaris Katholik. Para misionaris percaya bahwa dengan pendidikan maka warga pribumi akan mampu terangkat harkat dan martabatnya.


Dengan kemampuan yang meningkat karena pendidikan yang dienyam, mereka (warga pribumi) akan mampu bangkit dari kemiskinan dan kebodohan. Selain sebagai sebuah wujud kepedulian, kaum misionaris juga menggunakan pendidikan sebagai sarana untuk mempromosikan agama Katholik. Maka dibukalah Volkschool dan Vervolkschool untuk warga pribumi.


Tentu seorang misionaris takkan mampu mengampu sendirian sebuah sekolah. Misionaris tersebut dibantu oleh guru-guru, yang tentu saja beragama Katholik. Guru-guru ini digaji oleh sang misionaris. Nanun guru-guru ini bekerja tidak hanya pada jam-jam mengajar. Di luar jam sekolah, guru-guru ini menjadi guru agama. Mereka mengajarkan agama Katholik pada muridnya atau warga di sekitar tempat mereka bekerja atau tinggal. Maka di masa lalu, guru tidak hanya bekerja setengah hari atau tujuh-delapan jam perhari saja. Mereka bisa bekerja dari pagi sampai malam. Mereka mengajar, baik mengajar pelajaran di sekolah maupun mengajar agama di luar sekolah.


Bagaimana tanggapan masyarakat? Tentu saja masyarakat senang. Mereka senang karena mereka kini bisa baca-tulis. Dengan baca-tulis mereka bisa menjadi pedagang, bisa menjadi pegawai pemerintah (Belanda .mengijinkan didirikannya sekolah-sekolah rakyat agar Belanda tak perlu membayar mahal orang-orang Eropa yang dipekerjakan pada posisi-posisi rendahan), bisa membuat perhitungan untung rugi usaha pertanian, peternakan dan sebagainya.


Masyarakat juga senang ketika mereka mendapat pelajaran agama Katholik. Mereka yang selama ini tidak beragama, atau menganut Kejawen, kini bisa belajar beragama. Mereka yang tidak puas dengan agamanya (bagi yang non Katholik), kini memiliki pilihan lain untuk pindah agama.. Apa konsekuensi dari tanggapan-tanggapan ini? Guru menjadi sebuah posisi yang dihormati. Bisa dikatakan guru memiliki posisi diantara masyarakat kebanyakan yang menempati kelas rendah dengan posisi priyayi. Guru menjadi simbol kepandaian, kebijaksanaan, ketrampilan dan lainnya.


Secara ekonomis, guru juga memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding petani atau buruh. Oleh karena itu, kata "guru" kemudian mengalami perluasan makna. Dalam bahasa Jawa, sebutan "Mas Guru", "Pak Guru" atau "Mbah Guru" diberikan kepada orang orang terhormat, orang-orang pintar.


Lantas, bagaimana kehidupan guru saat ini? Jika kita membaca koran atau mendengarkan siaran berita radio-TV, kita akan mendengar bahwa guru saat ini tengah menagih janji Pemerintah untuk memenuhi tuntutan besaran anggaran pendidikan dalam APBN sebesar 20%. Apakah guru telah menjadi pekerja-pekerja yang materialistis? Tidak juga. Di tengah beratnya himpitan beban hidup, sangat wajar jika guru minta agar penghasilannya dinaikan.


Tentu menjadi sebuah ironi ketika seorang "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa", yang telah mencetak orang-orang pintar, ternyata anaknya sendiri tidak pintar. Mengapa anaknya tidak pintar? Karena guru tersebut tidak mampu mengkuliahkan anak-anaknya. Biaya pendidikan tinggi membubung setinggi langit, sementara gaji guru tidak banyak berubah.

Mencari pekerjaan sampingan pun bukan hal mudah. Guru selalu dianggap sebagai kalangan terpelajar dengan waktu luang yang cukup besar, dibanding mereka yang bekerja di sektor industri barang maupun jasa. Maka kepada guru dibebankan tugas-tugas di masyarakat maupun di Gereja. Guru menjadi ketua RT dan anggota Dewan Paroki. Maka waktu luang untuk merintis kesibukan di sore hari menjadi sulit untuk dimanfaatkan. Dan akhirnya sebagian besar guru hanya menggantungkan pada penghasilannya sebagai pendidik.


Dari sedikit uraian ini kita bisa melihat bahwa guru dari waktu ke waktu memiliki peran yang relatif sama. Guru, di luar jam sekolah, menjadi pengabdi masyarakat. Namun kini beban yang dibawa oleh seorang guru tidaklah seberat guru-guru di masa lalu. Beban guru sebagai pekerja sosial tidaklah sebanyak guru-guru pada masa lalu yang menjadi guru agama. Namun di luar jam mengajar, guru oleh masyarakat tetap dibebani dengan tugas-tugas sosialnya.






KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 3.95.37.22 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2020  http://www.pangudiluhur.org/