20.09.2005 08:35:50 2705x dibaca.
ARTIKEL
Guru yang profesional, yang menguasai materi pelajaran yang diajarkannya, dan sangat menguasai ilmu mendidik, tentunya memiliki kemampuan menjadikan anak didiknya manusia yang prestatif, memiliki komitmen tinggi, menghargai waktu, serta menghargai ilmu. Persoalannya berapa persen kah guru-guru kita yang benar-benar menguasai ilmu mendidik ini?
Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang teman lama yang memiliki putera yang masih belajar di sekolah dasar. Teman saya tadi mengeluh tentang perlakuan guru kelas yang saat itu sedang memarahi puteranya. Apa yang dikatakan guru itu benar-benar diluar batas etika. Ia mengeluarkan kata-kata seperti : “Babi kamu!, goblok kamu”, tolol kamu!”, dan sejenisnya.
Kenyataan lainnya, seorang guru matematika di sebuah SMA, yang kebetulan bertetangga dengan saya, dalam bincang-bincang santai sore hari di beranda rumahnya mengatakan bahwa ia baru saja memberi nilai semua siswa nya dengan nilai enam. Dan ketika saya tanya tentang modalitas V.A.K (gaya belajar siswa berdasarkan kecenderungan Visual, Auditorial dan Kinestetik) guru ini balik bertanya,”Modalitas VAK itu penerapan teknologi ya pak?” saya hanya dapat mengelus dada.
Asal tahu saja, sang guru sudah puluhan tahun berdiri di depan kelas, dan rupanya dia hanya tahu mengajar, namun buta tentang bagaimana mendidik.”Habis anak-anak itu kalau saya mengajar selalu menundukkan kepala, dan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, dia kurang perhatian, jadi saya kesal, nilainya saya beri enam saja!” sergah sang guru.
Rupanya ia belum pernah tahu tentang modalitas VAK sehingga siswa yang mengandalkan auditorial (karenanya dia menunduk) dan Kinestetik (mengetuk-ngetuk jari di meja) dianggap tidak memperhatikan. Sang guru pun tidak tahu bahwa siswa “yang kurang perhatian” ini menggunakan teknik penjangkaran dan memori tinggi dalam gaya belajarnya, dan kemudian merefleksikannya di rumah dengan membaca kembali pada buku pegangan matematikanya, apa yang diajarkan tadi. Ironisnya siswa yang “kurang perhatian” ini adalah siswa yang merancang, memprogram dan merawat website di sekolahnya.
Siapapun yang bergulat di bidang pemrograman komputer pasti tahu bahwa seseorang yang tidak memahami logika matematika akan sangat sulit untuk menguasai bahasa pemrograman komputer untuk mendisain web.
Jika anda mengajarkan hitungan penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian sampai angka seratus kepada seorang tukang beca yang hanya berpendidikan SD, percayakah anda bahwa tukang beca ini dapat mengajarkan anaknya hitungan sampai seratus, berikutnya, mampukah sang tukang beca ini mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang prestatif (bersikap selalu ingin maju) memiliki komitmen tinggi (sangat kuat memegang amanah), menghargai waktu, menghargai ilmu, jawabannya bisa ya bisa tidak.
Satu hal yang pasti, guru yang profesional, yang menguasai materi pelajaran yang diajarkannya, dan sangat menguasai ilmu mendidik, tentunya memiliki kemampuan menjadikan anak didiknya manusia yang prestatif, memiliki komitmen tinggi, menghargai waktu, serta menghargai ilmu. Persoalannya berapa persen kah guru-guru kita yang benar-benar menguasai ilmu mendidik ini?
Tak dapat dipungkiri, walaupun belum ada penelitian empirik tentang ini, dari input yang masuk ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan kita dapat membangun asumsi bahwa mahasiswa yang masuk ke lembaga ini dan kemudian jadi guru itu umumnya memiliki kecerdasan yang biasa-biasa saja, sementara generasi yang benar-benar cerdas lebih memilih memasuki perguruan tinggi non Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, untuk kemudian (mengutip almarhum Benyamin Sueib dalam sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”) jadi tukang insinyur, dokter, pengacara, manajer dan jabatan lain yang secara ekonomi lebih menjanjikan. Kalau direnungkan secara mendalam bangsa ini memang bangsa yang aneh bin ajaib.
Semua pemimpinnya “berteriak” tingkatkan kualitas SDM kita!, mbok ya yang “berteriak” ini bertanya pada seorang guru, cukupkah pendapatannya untuk hidup sebulan jika dia hanya mengajar di satu sekolah?
Guru-guru di Cina bukan pegawai negeri, mereka masih muda dan cerdas, mengajar berbekal lisensi yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Cina, mereka mengajar dalam kurun waktu tertentu, dan digaji lebih tinggi ketimbang pegawai negeri biasa, jumlah siswa per kelas maksimal 35 siswa, berdisiplin tinggi, dan lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, seperti IKIP, serta seleksi masuknya sangat ketat. Pertanyaannya, setelah menangkap fakta ini, apakah para perumus dan pengambil kebijakan di Dikmenum mau menyodorkan konsep pada pemerintah,”Naikkan gaji guru lebih tinggi dari PNS lain!, mereka yag ingin jadi guru harus diseleksi ketat dan harus memiliki lisensi yang dapat ditinjau sekian tahun sekali!”
Bukan mau berpikir negatip, namun rasanya kok enggak mungkin ya? Sudah bukan sekali kunjungan studi banding ke luar negeri dilakukan oleh Depdiknas, ratusan sudah personal yang dikirim oleh Depdiknas untuk belajar di luar negeri, untuk kemudian menjadi master dan doktor di bidang pendidikan, hasilnya pendidikan di Indonesia tetap nomor buntut di ASEAN bahkan di Asia, kenapa? ya itu tadi, secara ekonomi gaji yang diterima oleh mereka para guru ini berdasar pada Peraturan Gaji Pegawai Negeri, artinya dengan Pangkat/ golongan dan ruang yang sama dengan pangkat juru tulis di kecamatan, sang guru yang dituntut untuk mendidik anak manusia menjadi SDM yang handal akan memperoleh gaji yang sama dengan sang juru tulis yang hanya menghadapi kertas dan benda mati lainnya.
Jadi, jangan heran jika guru SD yang tamatan PGSD ini “mendidik” siswa yang diajarnya dengan sebutan (maaf) babi dan goblok, dan jangan heran pula jika ada guru SMA yang menganggap modalitas VAK sebagai sebuah penerapan teknologi. Jangan heran pula jika seorang doktor di bidang pendidikan, jadi doktor atas biaya negara, lima tahun di Australia, kemudian dipanggil pulang ke Indonesia, berkata kepada saya : “Saya menyesal kembali ke Indonesia”.
Apa arti dari semua tulisan ini? Artinya : selama perhatian pemerintah terhadap guru masih seperti saat ini, akan sulit bagi kita untuk mendapat guru yang tidak hanya mampu mengajar tetapi juga menguasai ilmu mendidik sehingga mampu mendidik. Sehingga tidak ada lagi guru yang memarahi anak didiknya dengan sebutan, babi, goblok!, dan tidak ada lagi guru SMA yang sudah mengajar puluhan tahun tidak mengerti dengan modalitas VAK.