15.01.2008 08:01:45 7390x dibaca.
ARTIKEL
Dalam era global dan pasar bebas sekarang ini dunia pendidikan ikut terpengaruh dalam suasana kompetitif. Hal ini ditunjukkan dengan upayaupaya kreatif dan inovatif para pelaku pendidikan untuk terus menggali “Keunikan dan Keunggulan” masing-masing sekolah agar semakin dibutuhkan dan diminati oleh masyarakat pemakai jasa pendidikan.
Masuknya sekolah- sekolah unggulan berkurikulum internasional dan lahirnya sekolahsekolah negeri/swasta yang menawarkan keunggulan fasilitas, bahkan dengan biaya yang relatif terjangkau, menambah maraknya persaingan dunia pendidikan khususnya di kota Semarang. Kegiatan marketing/pemasaran dalam dunia pendidikan yang dulu dipandang tabu karena berbau bisnis dan cenderung pro.t oriented sekarang sudah dilaksanakan terbuka dan terang-terangan.
Pola kompetisi pasar mengharuskan para pelaku dunia pendidikan berlombalomba berkompetisi untuk membawa sekolah masing-masing mendekat kepada ‘Target Market’ dengan berbagai upaya promosi. Sekolah-sekolah di bawah naungan YPL Cabang Semarang dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini mulai merasakan dampak ketatnya persaingan tersebut. Hal nyata yang terlihat adalah menurunnya animo pendaftar, bahkan di beberapa sekolah terjadi penurunan jumlah siswa yang diterima secara drastis akibat semakin banyaknya tersedia alternatif pilihan sekolah dengan keunggulan masing-masing.
Apabila sekolah-sekolah kita tidak memiliki pro.l yang jelas dan market mantap serta militan terhadap sekolah-sekolah Pangudi Luhur maka bersiap-siaplah untuk tergilas menjadi korban hukum rimba pasar dunia pendidikan. Telah lama disadari bahwa kita harus berlari dan berpacu dengan sekolah-sekolah lain agar tidak tertinggal, bahkan segala daya, upaya dan usaha telah dicoba dilakukan namun toh hasilnya belum memuaskan.
Keadaan itu masih ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah khususnya Pemkot Semarang yang tahun ajaran depan kabarnya akan meng-GRATIS-kan semua biaya pendidikan khusus bagi para siswa yang bersekolah di sekolahsekolah negeri. Jelas hal ini suatu pil pahit yang harus ditelan oleh sekolahsekolah swasta termasuk beberapa sekolah Pangudi Luhur.
Pembedaan kebijakan antara sekolah negeri dan swasta sangat memberatkan dan lambat-laun akan mematikan daur hidup sekolahsekolah swasta yang notabene adalah mitra pemerintah dalam usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai tujuan negara di dalam UUD 1945. Faktanya siswa yang bersekolah di sekolah swasta lebih banyak dibandingkan yang sekolah di negeri dan kebanyakan pula mereka berlatar belakang dan keluarga kurang mampu secara .nansial, merekapun juga anak bangsa yang berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Berbagai macam tantangan dan persoalan seputar dunia pendidikan khususnya usaha-usaha nyata yang segera dapat diwujudkan demi memasarkan sekolah-sekolah Pangudi Luhur cabang Semarang menjadi suatu tuntutan kebutuhan urgen yang secepatnya harus dicarikan solusi berupa terobosan-terobosan inovatif dan kreatif promosi/pemasaran demi eksistensi sekolah-sekolah kita.
Memang permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing sekolah berbedabeda, namun kami berpikir bahwa beberapa batang lidi yang disatukan akan lebih kuat dibandingkan dengan sebatang lidi. Kami berharap tantangan persoalan-persoalan yang menghambat seputar penerimaan siswa baru di suatu sekolah juga menjadi pemikiran dan dicoba untuk dianalisis dan dicarikan solusinya oleh teman-teman dari sekolah lain.
Forum yang di-launching Jumat 26 Oktober 2007 ini diharapkan mampu menjadi think tank yang memberikan rekomendasi berupa ide-ide kreatif strategi pemasaran sekolah juga menganalisis persoalan-persoalan yang menghambat calon pelanggan/customer agar menyekolahkan putra-putrinya di sekolah-sekolah PL.
Kebijakankebijakan strategis akan dapat dengan cepat di-implementasikan karena dalam forum ini berkenan hadir Bruder Frans Sugi FIC yang memberikan masukanmasukan/ ide demi pengembangan sekolah-sekolah PL, Bruder Anton Paryanto FIC sebagai penasihat dan Bruder Theodorus Suwariyanto FIC sebagai penanggungjawab dalam kapasitasnya sebagai Kepala Cabang Semarang, total seluruh anggota forum ini terdiri dari 18 orang dari berbagai jenjang unit kerja sekolahsekolah PL Cabang Semarang.
Tentu saja hasil instan tidak dapat segera untuk dirasakan namun usaha yang konsisten dan terus-menerus untuk membawa sekolah-sekolah PL kepada target market diyakini akan dapat diwujudkan sehingga muara tujuannya adalah semakin tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah-sekolah PL khususnya cabang Semarang.
Implementasi hasil rekomendasi dari forum ini ada beberapa hal di antaranya adalah:
pertama, akan diadakan seragam identitas untuk sekolah PL se-Indonesia yang dimaksudkan untuk menumbuhkan kebersamaan dan kebanggaan siswa serta guru menjadi bagian dari sekolah PL.
Kedua, usaha untuk memasyarakatkan lagu mars PL di kalangan siswa dan guru, maka akan ada surat himbauan dari Kepala Kantor YPL Pusat untuk menyanyikan mars PL dalam setiap upacara bendera disekolah-sekolah PL.
Ketiga, identi.kasi permasalahan seputar PPD dan tawaran beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah PL.
Keempat adalah mendorong kegiatan ekspose sekolah-sekolah PL cabang Semarang dalam rangkaian peringatan Hari Pelindung YPL beberapa waktu yang lalu diharapkan agar dapat menjadi ajang menjual sekolah-sekolah PL Cabang Semarang. Bagaimana teman-teman yang berkarya di sekolah-sekolah PL cabang lainnya apakah akan mengikuti langkah kami? Monggo...! Maju dan Jayalah selalu sekolah-sekolah Pangudi Luhur !
(Ant. Arief Budianto, S.Pd.)
Koordinator Umum, Forum Komunikasi, Diskusi dan Sharing, Strategi Pemasaran Sekolah YPL Cabang Semarang)