24.09.2007 10:06:52 5280x dibaca.
ARTIKEL
Saya senang ROHANI akhirnya menentukan tema ‘Panggilan Bruder’ untuk edisi Agustus 2002 ini. Begitu membaca ada tema sekitar Panggilan Bruder, beberapa rekan bruder saling membisik,”Wah, ada kesempatan bagus untuk mengenalkan diri, siapa, apa, dan bagaimana Bruder itu.”
Dalam kesempatan ini saya akan mencoba berbagi unek-unek, pengalaman, perjuangan dan (mungkin) impian sekitar panggilan menjadi Bruder.
Dipandang dengan sebelah mata
Suatu hari waktu saya masih belajar, ada seorang dosen bertanya kepada saya,”Der, kok tidak menjadi Romo sekalian?” Saya yang mendengar langsung pertanyaan itu tidak berkomentar atau menjawab pertanyaan itu. Lain kesempatan pada waktu saya bertugas menjadi guru di sebuah SLTP ada orang tua murid bertanya,”Kapan Bruder ditahbiskan menjadi Romo?” Sesama bruder saya pada kesempatan perkenalan panggilannya ditanya,”Mengapa Bruder tidak menjadi Romo?” Ia menjawab dengan penuh kelakar namun mengena,”Kalau semua menjadi romo, siapa nanti yang menyiapkan dan atau mengajar calon-calon romo?” Pada hari Minggu Panggilan bulan April yang lalu, saya mengikuti Misa Kudus di salah satu paroki di pusat kota Yogyakarta.
Sebagai ganti homili atau khotbah Pastor, ditampilkan dua orang bruder muda yang berdialog secara menarik tentang hidup bakti. Menurut saya mereka tampil dengan bagus, kreatif. Umat yang hadir dibuat tertarik karenanya. Ketika Misa Kudus berakhir tidak ada sedikit pun penjelasan disebut bahwa dua orang tersebut adalah bruder. Juga sebelum mereka tampil tidak ada sepatah atau dua patah kata sebagai pengantar bahwa akan ada dua bruder yang akan bersaksi tentang kehidupan mereka. Lain lagi pengalaman sesama bruderku yang belajar Teologi di Kentungan, Yogyakarta.
Pada awal-awal kuliah untuk bergabung menjadi anggota kelompok diskusi saja sangatlah sulit, karena dia bruder! Dia merasakan seolah-seolah bukan kelasnya untuk dapat bergabung dalam kelompok mereka yang calon pastor. Karenanya, dia sungguh sedih dengan situasi ini. Namun, sejarah bicara lain setelah semester pertama terlalui dan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) bruderku itu sangat tidak mengecewakan : di atas 3. Sejak itu cukup banyak teman setingkat dengan mudah menawarkan kesempatan untuk bergabung dalam kelompok diskusi mereka. Litani sejenis di atas masih dapat diperpanjang dengan sekian contoh lagi dari pengalaman nyata sehari-hari yang menunjukkan bahwa Bruder itu kelompok corak hidup bakti yang sering dipandang orang dengan sebelah mata.
Bruder FIC
Di Indonesia terdapat tidak lebih dari 9 Kongregasi Bruder dan Frater, dengan jumlah anggota yang cukup bervariasi. Di samping itu ada Kongregasi atau Ordo yang terdiri dari Imam dan Bruder, yang biasanya disebut Kongregasi atau Ordo campuran. Setiap kongregasi mempunyai macam karya kerasulan masing-masing, yang tentu saja sangat diwarnai oleh karisma/semangat awal para Pendiri Ordo/Kongregasi mereka.
Sebagai contoh Kongregasi FIC (di mana saya bergabung di dalamnya) - yang didirikan pada tahun 1840 - diwarnai oleh karya utama Pendidikan dan Pengajaran serta Pembinaan bagi kaum muda. Hal ini karena Pastor Ludovicus Rutten, Pendiri Kongregasi para Bruder FIC di Maastricht pada awalnya digerakkan hatinya oleh penderitaan kaum muda di Maastricht, Belanda. Imam muda ini mengalami suatu panggilan untuk menyerahkan seluruh hidupnya dan semua kekayaannya bagi pelayanan pendidikan dan pembinaan Kristiani kaum muda.
Orang-orang muda ini telantar, tidak mendapatkan perhatian dari orang tua mereka, karena orang tua mereka ini sangat sibuk bekerja seharian di pabrik-pabrik. Rutten, sebagai Pendiri, mulai dengan Taman Kanak-Kanak di emperan basilik St. Servatius di Maastricht. Dari situlah berkembang sekolah-sekolah Bruder di Maastricht dan sekitarnya, yang kemudian menyebar ke kota-kota lain di Belanda. Pada zamannya banyak buku-buku pelajaran yang dikarang oleh Bruder-bruder Guru FIC. Kongregasi FIC mempunyai Sekolah Guru khusus bagi pemuda-pemuda yang akan menjadi bruder. Praktis semua bruder FIC adalah guru. Di setiap sekolah yang dikelola oleh FIC pasti ditangani oleh para bruder.
Pada waktu akhirnya FIC diundang oleh Romo-romo Yesuit untuk datang ke Yogyakarta tahun 1920, maka karisma Pendiri itulah yang juga dibawa. Mulailah sekolah-sekolah Bruderan didirikan dan bahkan buku-buku pelajaran untuk anak-anak sekolah dikarang dan diterbitkan. Tidaklah mengherankan apabila ada orang yang berpendapat bahwa Bruder FIC itu Bruder Guru. Tentu saja karya di bidang pendidikan ini bukan satu-satunya, masih ada karya-karya lain yang juga menjadi tanda kesaksian hadirnya Bruder-bruder FIC. Hal ini sesuai dengan ‘terbuka terhadap tanda-tanda zaman dan terhadap Roh yang berembus ke arah yang dikehendaki-Nya.’ Saya kira proses yang mirip dialami juga oleh Kongregasi atau Ordo lainnya.
Jatidiri Bruder
Ada cukup sumber atau dokumen-dokumen resmi Gereja yang menjelaskan kedudukan dan jatidiri cara hidup bakti yang disebut Bruder di dalam Gereja. Misalnya di dalam Perfectae Caritatis art. 10,”Hidup religius yang beranggotakan awam, untuk pria maupun wanita, merupakan status pengamalan nasihat-nasihat Injil yang sudah lengkap. Maka Konsili suci sangat menghargainya, karena begitu berjasa bagi tugas pastoral Gereja, melalui pendidikan kaum muda, perawatan orang-orang sakit, dan pelayanan-pelayanan lainnya.
Konsili meneguhkan para anggotanya dalam panggilan mereka, serta mendorong mereka untuk menyesuaikan hidup mereka dengan tuntutan-tuntutan zaman sekarang.” Vita Consecrata art.1 mengatakan,”Di setiap masa ada orang-orang pria maupun wanita yang mematuhi panggilan Bapa dan dorongan Roh Kudus, dan memilih cara khusus itu dalam mengikuti Kristus, guna membaktikan diri kepada-Nya dengan hati yang ‘tak terbagi.’
Seperti para Rasul, mereka pun telah meninggalkan segala sesuatu untuk menyatu dengan Kristus dan seperti Dia mengabdikan diri kepada Allah serta kepada saudara-saudari mereka. Begitulah, melalui sekian banyak karisma hidup rohani dan kerasulan, yang dianugerahkan kepada mereka oleh Roh Kudus, mereka membantu menjadikan misteri dan misi Gereja memancarkan sinar, dan dengan demikian berperanserta demi pembaruan masyarakat.”
Dalam buku Iman Katolik KWI hlm 375 dituliskan,”Bruder dan suster bukan anggota hierarki, dan semua biarawan-biarawati tidak termasuk hierarki. Hanya saja ada biarawan yang ditahbiskan imam. Mereka sekaligus anggota kelompok kebiaraan dan pembantu uskup, tetapi hidup membiara sendiri bukan fungsi gerejawi, melainkan corak kehidupan.
Oleh karena itu, Konsili Vatikan II mengajarkan,’meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil, tidak termasuk susunan hierarkis Gereja, namun juga tidak dapat diceraikan dari kehidupan dan kesucian Gereja, sebab hidup membiara berkembang dari kehidupan Gereja sendiri, bahkan nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan.”
Kiranya beberapa kutipan tersebut dapat memperjelas pemahaman terhadap : apa itu bruder.
“Bruder Pastor”
Sekitar tahun 1970-an, ada beberapa Bruder FIC di Belanda dan Chile yang ditahbiskan (tentu saja setelah mempersiapkan diri semestinya) menjadi imam demi karya pelayanan sesuai dengan tuntutan setempat. Hal ini memang dimungkinkan seperti yang tertulis dalam Perfectae Caritatis art.10,”Konsili suci menyatakan tidak berkeberatan, bila dalam tarekat-tarekat para bruder, dengan lestarinya corak keawamannya, atas penetapan Kapitel Umum, ada beberapa anggota yang menerima Tahbisan suci, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelayanan imamat dalam rumah-rumahnya.”
Dalam perjalanan sejarah Kongregasi - lewat discernment dalam Kapitel-Kapitel - akhirnya diputuskan bahwa tidak ada lagi bruder-bruder yang ditahbiskan. Kita kembali kepada tujuan awal pendirian Kongregasi. Kita, Kongregasi FIC adalah Kongregasi Bruder dan bukan Kongregasi Bruder dan Imam.
Dari pengalaman, situasi campuran ini kurang menguntungkan perkembangan Kongregasi. Memang sekarang ini masih ada ‘sisa-sisa kecil bruder-pastor’ yang melaksanakan tugas penggembalaan di paroki dan karya pastoral lainnya. Pada waktu pertama kali saya bertemu dengan mereka (bruder pastor), saya agak canggung pula. Maka saya bertanya,”Bagaimana saya mesti menyebut Anda? Bruder atau pastor?” Jawabnya,”Saya ini tetap Bruder FIC dan sepenuhnya anggota Kongregasi Bruder FIC!”
Berkaitan dengan persoalan Bruder-Pastor, ada sebagian yang berpendapat bahwa pakaian biara (jubah) bukan busana bruder. Kita ini bruder dan bukan imam, maka tunjukkan dengan apa adanya bahwa kita ini sebagai ‘saudara.’ (Kata bruder dari kata bahasa Belanda broeder; bahasa Inggris brother yang berarti saudara). Kita tidak perlu mengenakan busana biara agar tidak mengesankan adanya perbedaan status. Dalam ungkapan bahasa Jawa - ora perlu ngemba-emba pastor, sebab pancen dudu pastor! (Tidak perlu berpura-pura sebagai pastor, karena memang bukan pastor!) Tentu saja masalah busana ini juga bergantung atau paling tidak sangat dipengaruhi oleh situasi masyarakat di mana bruder tinggal dan hidup.
Dibutuhkan Kepercayaan Diri
Saya ini tetap seorang bruder. Kiranya yang penting adalah bagaimana saya atau kita yang dipanggil menjalani hidup sebagai bruder ini mengisi hidup kita sebagai orang yang dipanggil, sebagai bruder dan bukan sebagai seorang pastor. Bila kita sendiri - yang bruder - tidak yakin bahwa panggilanku adalah sangat bermakna, bernilai sebagai cara hidup khusus, mana mungkin dapat menjadi daya tarik bagi mereka yang menyaksikan cara hidup kita ini. Suatu hal yang sangat mengecewakan bila seorang bruder pada waktu disapa atau ditanya tentang identitas panggilannya, mengatakan,”Kula menika namung bruder!” (Saya ini hanya bruder!) Jawaban seperti ini akan makin membuat ambigunya pemahaman : apa itu bruder.
Mestinya dijawab dengan penuh keyakinan,”Saya ini seorang bruder!” Sebaliknya ada pula bruder yang sok bergaya sebagai pastor. Penampilan ini pun memperkeruh pandangan orang terhadap : apa itu bruder. Tentulah penampilan seperti ini juga bukan sesuatu yang terpuji. Kiranya perlu disadari bahwa panggilan itu soal iman. Karena iman, maka panggilan tidak dapat dibanding-bandingkan dengan cara hidup yang lain. Seseorang menjadi bruder bukan untuk mencari kelas. Di sini pula diperlukan adanya percaya diri bahwa seorang bruder memang dipanggil untuk menjadi bruder, bukan untuk menjadi yang lain.
Refleksi Dasar
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat membantu untuk sejenak merefleksikan panggilan kita sebagai bruder. Berbahagiakah saya menghayati panggilanku sebagai bruder? Mengapa saya tetap tinggal di dalam kongregasi bruder? Apakah saya tampak berbahagia, senang, optimis di dalam hidup dan tugas perutusanku sehari-hari sebagai bruder? Apa yang saya pikirkan ketika orang lain melihat dan memperhatikan saya sebagai bruder? Adakah daya tarik dari cara hidup sebagai bruder? Masihkah ada sesuatu yang menarik bagiku sendiri cara hidup seperti ini, sekarang dan di masa yang akan datang? Apakah saya mendorong seseorang untuk menjadi bruder? Mengapa sulit untuk mengungkapkan identitas saya sebagai bruder? Mengapa ada sebagian orang (umat) menganggap atau memandang hidup sebagai bruder, sebagai cara hidup bakti yang nomor dua? Mengapa ada sesama religius yang memandang panggilan bruder sebagai panggilan nomor dua?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti tersebut di atas bukan garansi (secara otomatis) memperjelas apa itu bruder. Namun demikian, respons kita akan mempertajam pemahaman kita sendiri, baik secara perseorangan maupun secara kelompok terhadap makna panggilan sebagai bruder. Masa depan hidup sebagai bruder kiranya akan sangat ditentukan oleh mutu cara hidup dan mutu dalam menjalankan tugas perutusan kita, dan bukan persoalan panggilan kelas satu atau panggilan kelas dua.
Kiranya baik apabila sharing kali ini saya akhiri dengan sharing-nya Santo Paulus seperti yang dituangkannya di dalam suratnya kepada orang-orang di Roma,”Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita... " (Roma 12:4-6a)
Oleh: Br. Frans Sugi FIC
Penulis adalah seorang bruder FIC tinggal di Semarang.
(Dimuat dalam Majalah ROHANI no.08 tahun ke-49 Agustus 2002)