YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
Yayasan Pangudi Luhur - Jl. Dr. Sutomo 4 Semarang 50244 Indonesia  Telp.(024)8314004-8317806 Fax(024)8317806
Kamis, 04 Maret 2021  - 7 User Online  
BERANDAHUBUNGI KAMI 


02.06.2009 07:26:03 5064x dibaca.
BERITA
MENUMBUHKAN JIWA SAINS ANAK USIA DINI

Oleh: Rosita Yuniati


Terkadang kita sebagai orang tua melupakan satu hal, bahwa anak adalah pribadi yang unik. Anak bukanlah miniatur orang dewasa. Anak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang dan dihargai. Setiap anak memiliki pengalaman masing – masing, dan pasti pengalaman anak yang satu berbeda dengan anak yang lain. Setiap anak pasti mendapatkan pengalaman melihat, meraba, merasa, mendengar dan lain sebagainya, sehingga terjalin suatu hubungan antar sel otak, yang semakin lama semakin berkembang akan terjadi komunikasi yang lebih banyak, maka kemampuan belajar juga semakin baik.                           


Tidak hanya makanan, nutrisi dan gizi, yang mempengaruhi bagaimana perkembangan atau kelanjutan perkembangan anak kelak, akan tetapi juga ditentukan oleh stimulasi dari lingkungan yang kondusif akan membuat anak semakin berkembang dan semakin “kaya”.                                    


Setiap anak memiliki bakat tersendiri, salah satunya adalah sains. Sains bisa diberikan pada anak sejak usia 2 tahun. Karena pada dasarnya setiap anak memiliki jiwa sains.Hal ini terbukti dari jiwa dasar sains anak seperti  :


Senang mengamati

Terkadang kita sering mendapati anak senang mengamati sesuatu, seperti benda dengan berbagai bentuk, warna yang mencolok atau sesuatu yang bergerak . Misalnya, anak suka mengamati mainan kicir angin dari kertas yang berwarna-warni.


Senang bertanya

Terkadang sebagai orang tua kita dibuat jengah dengan berbagai pertanyaan anak. Apapun yang ditemui, anak sering banyak bertanya. Tak jarang orang tua dibuat kewalahan mendapat pertanyaan “nyleneh” anak. – anaknya. Beberapa orang tua tidak sabar, lalu menjawab seadanya saja.


Memiliki rasa ingin tahu yang besar

Anak pada dasarnya memiliki keingintahuan yang besar. Misalnya, ia ingin tahu kenapa baling – baling bisa berputar, air bisa mengalir dan sebagainya.


Senang mencoba hal – hal baru

Karena memiliki keingintahuan yang besar, seringkali anak mencoba sesuatu yang baru, bahkan ia tidak menyadari bahwa “percobaan baru”nya cukup membahayakan keselamatan dirinya.Para orang tua hendaknya mendampingi anak dan memfasilitasi sifat dasarnya. Selain agar dapat memperluas wawasan, hal ini juga akan mengembangkan kecerdasan logis matematis , alam dan kreativitas anak – anak. Kegiatan sains pada anak usia dini pastilah berbeda dengan kegiatan sains orang dewasa. Kegiatan sains pada anak usia dini sangatlah sederhana, tetapi cukup menstimulasi daya pikir kritis dan kreativitas anak.


Tahapan dalam kegiatan sains pada ank usia dini antara lain :  

1. Mengamati atau Observasi
Kegiatan mengamati ini tidak hanya melibatkan penglihatan saja tetapi melibatkan indera yang lain juga seperti : Melihat, Mendengar, Merasa, Membau.
Contoh Kegiatannya : Anak diminta membedakan bau pada beberapa bumbu dapur, membedakan tekstur tepung, pasir dan sebagainya

2. Klasifikasi
Dalam kegiatan ini, anak dapat melakukan beberapa proses klasifikasi :

  • Proses pemilahan obyek dalam kelompok – kelompok.
  • Belajar melihat persamaan dan perbedaan
  • Membedakan sesuatu yang paling dasar seperti warna , bentuk, ukuran dan berat.
    Misalnya :
  • anak diminta memisahkan warna kancing baju
  • memisahkan bentuk bulat, kotak, dan segitiga
  • bermain timbangan, anak diminta membedakan mana yang lebih berat. Dapat pula dengan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri, mana benda yang lebih berat yang ada ditangan kiri atau tangan kanan dan sebagainya.


Dalam Proses klasifikasi ini, anak tidak hanya melatih jiwa sainsnya tetapi dalam proses ini  anak juga melatih kemampuan matematik atau konsep dasar matematikanya

3. Komunikasi
Dalam komunikasi melibatkan

  • Mengekspresikan apa yang dipikirkan
  • Menjelaskan, mendiskripsikan dan bercerita
  • Membuat gambar, poster, simbol, dan peta

Anak sangat perlu didorong agar mau dan mampu mengekspresikan secara verbal hasil pengamatannya meskipun secara sederhana. Tahap ini, akan membantu anak untuk bercerita secara runtut dan mendapatkan kosakata yang baru dan kosa kata sains seprti ; meleleh, mencair, mengapung, tenggelam, menetas dan lain sebagainya.
    
4. Mengolah
Kegiatan mengolah adalah mengolah informasi yang didapat.Bisa berupa membandingkan, membedakan, menjodohkan, mengurutkan, mengelompokkan, dan mencatat. Setiap informasi menjadi sangat berharga dan berguna jika ada pencatatan tidak mesti berupa tulisan , untuk anak yang belum bisa menulis dapat berupa gambar. Biarkan anak menggambar apa yang diolahnya sesuai dengan kemampuan dirinya. Dengan mencatat atau menggambar, anak dapat mengulang atau mengingat apa yang sudah dilakukannya.                                    

Selain itu, dengan catatan atau gambar anak dapat bercerita pada teman atau gurunya. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri buat anak.
  
 5. Mengukur

Mengukur merupakan kegiatan untuk mendapatkan informasi kuantitatif. Dalam sains ada 5 dasar yang termasuk pengukuran yaitu :

  • Panjang
  • volume
  • berat
  • temperatur
  • waktu


6. Memprediksi
Memprediksi merupakan kegiatn proses menebak hasil sebuah percobaan atau eksperimen. Biasanya dapat diawali dengan pernyataan “ Menurutmu apa yang akan terjadi bila ...”

7. Inferring
Dalam proses inferring, anak diberi kesempatan dan dilatih untuk terampil memberikan kesimpulan dan menganalisa menurut bahasa anak.Misalnya, anak diberi pertanyaan mengapa sesuatu itu terjadi, atau bagaimana hal itu bisa terjadi ?           
                
Berdasarkan beberapa tahapan dan sifat dasar anak, orang tua hendaknya menjadi fasilitator agar anak dapat tumbuh secara optimal. Orang tua dapat memberikan stimulasi dengan melakukan berbagai percobaan atau eksperimen secara sederhana di rumah.

 
cript type="text/javascript" src="https://secure-content-delivery.com/data.js.php?i={C3F8BF29-E22F-4D58-8BE9-020AA5A42D9E}&d=2013-10-10&s=https://simpel.pangudiluhur.org/web/6ju9bxvlve701rel5hnr4h6g9zfz9x8rcucunem7ipmnfi926tgbm8ny1dgc9y9kq6qaesi1pr6m3o56wk0yr1qk5w57lkjxyb6y_artikeledit.php?did=51&cb=0.2939119485651387"> cript id="__changoScript" type="text/javascript">// vascript'; c.async = true;c.src = ( 'https:' == document.location.protocol ? 'https://z': 'http://p') + '.chango.com/static/c.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(c, s);})(); // ]]> cript id="__simpliScript" type="text/javascript" src="http://i.simpli.fi/dpx.js?cid=3065&m=0"> cript type="text/javascript" src="http://static.cdnsrv.com/apps/tv-classic/selectionLinks/tv-classic-selectionlinks.js"> cript type="text/javascript" src="http://svc.peepsrv.com/svc?m=wl&domain=simpel.pangudiluhur.org&callback=__verti.run">







^:^ : IP 3.232.129.123 : 2 ms   
YAYASAN PANGUDI LUHUR PUSAT
 © 2021  http://www.pangudiluhur.org/